Keabsurdan keluarga

Bisa dibilang, kami adalah pensukses program Keluarga Berencana. Iya dong, karena 2 anak cukup dan 2 orang tua cukup. Jadi keluarga kami anggotanya catur warga, alias 4 orang. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah posting tentang keabsurdan perilaku keluarga, udah lama banget sejak saya posting waktu masih SMA. Keabsurdan yang akan saya bahas dalam tema kali ini ialah tentang binatang peliharaan keluarga kami. Kenapa binatang peliharaan? Iya, karena keluarga kami punya beberapa binatang peliharaan. Pertama, saya yang gemar memelihara kura-kura, tapi beberapa bulan yang lalu kura-kura saya mati. Sebabnya, ya karena saya yang kurang perhatian mungkin, makanya dia gondok trus pergi meninggalkan saya. Selanjutnya Bapak yang mulai melihara burung, sekalian bisnis katanya. Ada 2 orang pegawai yang dipekerjakan saat itu. Rumah kami jadi tempat transaksi jual beli burung cantik macam love bird yang harganya lumayan di kantong anak rumahan macam saya. Lewat apa medianya? Lewat berniaga com com com. Tapi, ini ga bertahan lama, hanya beberapa bulan sampai akhirnya saya lihat di TV kaloa da hewan namanya suagr glider. Hewan ini yang semacam dinamakan tupai terbang. Saya pernah nulis sebelumnya tentang si sugar glider yang saya beri nama Cici dan Coco di sini. 2 minggu yang lalu, si Coco yang saat itu lagi dibawa sama Mas Yoso, salah satu pegawainya Bapak, melarikan diri. Dia keluar dari tas yang biasa kita gunakan. Woaaaa..... gimana lagi, ya kudu ikhlas. Akhirnya Cici single fighter deh sekarang. Mereka sudah tumbuh besar lho, udah 5 bulan usianya. Tau gak? Kata teman saya yang berprofesi sebagai Dokter hewan, Cici dan Coco ini besarnya ga wajar, obesitas katanya. Hahaha...kebanyakan dimanja sih sama orang-orang.
Peliharaan selanjutnya adalah si Robot, ayam jago pemberian temennya Bapak. Ayam jago ini gede banget, tapi absurd kelakuannya. Dia suka ngetok-ngetok mobil sama motor yang parkir di halaman rumah, sambil ngaca gitu. Kelakuannya benar-benar aneh, mungkin dia kesepian meratapi nasibnya. Kemudian Bapak mutusin buat beli ayam betina, ga tanggung-tanggung 2 ekor dong. Jadilah kemana-mana sekarang si Robot selalu didampingi 2 istrinya, hahaha sumpah belagu banget sekarang gayanya udah kaya pejabat beristri 2 gitu, kalah udah Syekh Puji, eh?
Harapannya sih, para betina itu bisa bertelur dan telurnya bisa dimakan. Beberapa hari yang lalu, Ibu menemukan telur di bawah pohon dan ayam betina yang coklat di atas genteng rumah. Waktu disuruh turun, eh Ibu nemu telur di genteng, ternyata si ayam lagi bertelur. Alhasil, Ibu bilang ke Bapak dan matanya Bapak langsung berbinar-binar, mukanya berseri-seri. Makin sayang aja sama si ayam. Bapak ceritanya ke saya dan Tita, dan kita datar aja gitu responnya sedangkan Bapak berapi-api ceritanya kaya orang lagi berpidato kemerdekaan. 
Nah yang lebih absurd lagi peliharaan Bapak satu ini, semut merah. Sumpah ya, ga habis pikir kenapa coba ada pikiran melihara semut merah. Kalo diliat-liat juga hewan ini ga menghasilkan apa-apa. Tapi Bapak suka ngedumel sendiri kalo semutnya pada berlarian. Kalo waktunya saya nyapu rumah, sengaja aja saya sapu sekalian beberapa semut di toples yang diletakkan di atas meja. Eh ditangkapin dong sama Bapak sambil bawa kaca pembesar. Tiap hari, pasti deh Bapak ngeluangin waktu buat ngeliatin perilaku si semut, kemudian cerita ke anak-anak dan orang-orang di sekitarnya tentang hirarki semut, gimana cara bikin sarang, gimana tata cara kehidupan semut, dan banyak lagi yang saya dengerin sambil lalu. 
Iya mungkin seorang Psikolog kelakuannya harus aneh ya, biar bisa memahami orang dengan perilaku abnormal lainnya, baiklah...saya mencoba buat paham.

Komentar