Amazing Journey Trenggalek (part 2)


Hari kedua, setelah sholat Subuh dan mandi, kami berangkat ke Pantai Kili-Kili. Yeay! Finally, touchdown Pantai...ketemu Penyu >< amazing and wonderbar! Saya paling gemes liat benda yang berbentuk kura-kura dan penyu, dan sekarang ketemu Penyu untuk ke-2..eh ke-3 kalinya, sebelumnya saya pernah ketemu Penyu di Pulau Penyu, Bali. Ini the real Penyu!
Dari penginapan ke lokasi pantai ini lumayan, sekitar 10 menit naik mobil. Kami melewati rumah-rumah penduduk dan hamparan sawah serta kebun kelapa yang juga ditumbuhi cemara udang. Setelah itu, kami masih harus berjalan dari lahan persawahan itu menuju pantai, sekitar 5 menit sampai akhirnyaaa.....waoww subhanallah....pantai terbentang di depan mata kami. Ada penyu-penyu imut juga di kolam-kolam penangkaran. Huaaa lucunya... can’t wait to touch them! Padahal jelas-jelas di depan kolam itu ada tulisan “PENGUNJUNG DILARANG MENYENTUH DAN MEMBERI MAKAN PENYU”. Tapi kami kan bukan pengunjung, kami kan tamu..jadi boleh dong ya menyentuh...hihi. For the third time saya megang penyu, dan baru tahu kalo ternyata penyu ga bisa memasukkan kepalanya ke dalam cangkangnya, layaknya kura-kura. Ternyata penyu ini wajahnya unyu banget ya, matanya kedip-kedip terus kaki dan tangannya layaknya sirip ikan, kalo berenang gemesyin. Haha... maaf ya kalo tulisan saya rada alay tentang Penyu, habisnya lucu banget.
Kolam penangkaran di Taman Kili-Kili (sebutan untuk pantai Kili-Kili) ini dibangun oleh Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) yang peduli dengan keberadaan penyu di sini. Pokmaswas ini bertugas mencari telur penyu yang ditinggalkan oleh para induk penyu pada malam harinya, untuk kemudian dirawat hingga penyu ini menetas. Penyu yang baru menetas dinamakan tukik, bentuknya kecil, lucu sekali. Para tukik ini nantinya akan dilepaskan ke laut demi kelangsungan hidup mereka. Nah, tukik inilah yang akan diadopsi oleh para adopter. Para adopter yang sudah bersedia mengadopsi akan diberi suvenir dan tukik yang diadopsi itu nantinya akan diberi nama para adopter tersebut, adopter pun berhak atas sertifikat kepemilikan penyu tersebut karena telah ikut serta dalam pelestarian hewan langka di Indonesia.
Sementara tim PKMM menyusun strategi dan ngobrol-ngobrol dengan Pak Didik, Kepala Desa Woncoyo, tim PKMT juga sibuk mengukur suhu pasir di pantai pada jam-jam tertentu untuk project mereka. Pak Didik sangat antusias dengan program yang kami tawarkan ini, dan beliau memberi kami berbagai informasi yang sangat berguna. Beliau pun mengizinkan kami untuk mengadakan sosialisasi terkait program ini nanti siang jam 13.00. Alhamdulillah....

Sembari menunggu jam 13.00, kami pun sarapan dulu karena dari tadi belum sarapan. Adi dan Angga beli sarapan untuk kami, dan kami makan bareng di atas Mess Pokmaswas yang ada di tepi pantai, memandang lautan di depan kami. Ombaknya subhanallah, gede banget! Merinding dibuatnya...pengen main di pantai, tapi matahari semakin terik, saya cuma duduk-duduk di pinggir kolam penangkaran, sementara para Pokmaswas dan anak-anak muda Wonocoyo serta temen-temen cowok mengganti air di kolam penangkaran tersebut dengan air laut. Jadi tau, gini toh prosesnya ganti air di kolam.. enak ya, langsung pake air laut, tinggal sedot doang..karena air laut berlimpah ruah, ga bakal takut kalo kehabisan dan gratis.


Hingga akhirnya, jam 12.30 kami balik ke penginapan untuk bersih diri dan bersiap untuk sosialisasi. Sosialisasi jadi molor mulainya, karena kami juga molor nyiapinnya. Baru dimulai jam 14.00. Bertempat di Balai Desa Wonocoyo, kami pun mulai menjelaskan konsep pemberdayaan masyarakat yang kami usulkan. Mereka, khususnya Kepala Desa dan Ketua Pokmaswas, menanggapi positif program kami dan bersedia membantu dalam pelaksanaan program ini demi kemajuan Desa Wonocoyo. Selain itu, alat penetasan telur penyu yang diusulkan oleh tim PKMT juga mendapat respon positif dari masyarakat, mereka tidak sabar menunggu alat otomatisasi penetasan tersebut jadi dan segera dicobakan kepada telur-telur penyu yang memang ramai-ramainya ada di Taman Kili-Kili antara bulan Maret hingga September. Rencananya, bulan Agustus kami akan membuat sebuah acara untuk membuat pencitraan positif Desa Wonocoyo yang menonjolkan taman Kili-Kili sebagai tempat konservasi penyu yang punya daya tarik wisata bagi Kabupaten Trenggalek. Kami segera menyusun strategi untuk itu. Acara ini pun diakhiri dengan dokumentasi pada jam 16.00. 



Setelah itu kami check out dari penginapan dan ke Taman Kili-Kili untuk pamitan dengan Pak Rusdi, anggota Pokmaswas yang tinggal di Mess. Setelah pamitan dengan Pak Rusdi, kami sempat mendokumentasikan suasana pantai di sore hari dan foto kami “Geng Penyu”. Salam Penyu Indonesia! Bipbipbipbipbip...haha


Akhirnya, kami pun harus meninggalkan Wonocoyo dan kembali ke Malang. Rute yang dilewati berbeda dengan rute awal kami berangkat, kami lewat rute ke arah kiri yang ternyataaaa jalurnya lebih berbelok-belok dan lebih curam, mana bensin kita tinggal dikit, huaaa....jam 19.00 kami masih berputar-putar di area pegunungan, sampe akhirnyaaaa kami bisa terbebas dari area ini dan segera cari tempat makan, laper banget dari siang belum makan. Kami pun makan di sebuah warung di pinggir jalan untuk mengisi perut, setelah itu mengisi bahan bakar dan Alhamdulillah perjalanan lancar sampai Malang. Saya udah tepar deh waktu itu, tidur sampe nyampe Malang. Ga tau deh posisi tidur ga karuan sampe badan pegel semua. Alhamdulillah...sampe Malang juga..perkiraan sampe jam 23.00 meleset, saya sampe rumah jam 01.00. Ternyata, di rumah Pita saya udah ditunggu sama Pita, Fiqih, dan Mbak Dede buat nginep di sana, trus minggunya kita mau masak bareng, tapi saya udah janji sama Bude buat langsung pulang ke rumah. Akhirnya saya pulang langsung ke rumah Bude dan dibukain pintu sama Mas Wiwid. Saya pun segera sholat dan tidurrr...
Have a good sleep guys!

Komentar