Allah sangat sayang sama kamu, Dek



“Mbak...aku nggak punya adek lagi....” kalimat ini membuat hati saya mencelos. Diucapkan oleh seorang kakak sesaat setelah kepergian adik semata wayangnya.
__________________________________________________________________________________
Kami semua sayang padanya, seseorang yang akan genap 16 tahun usianya – pada tanggal 16 Juni mendatang.
Tahukah kamu, Dek?
Hati kami semua menggigil mendengar kabar kepergianmu.
Air mata tanpa perintah meluncur dengan derasnya tanpa peduli tempat ketika mengetahui kepergianmu, Dek.
Rasanya bagai mendengar petir tanpa disertai mendung, kami terguncang oleh kabar hembusan terakhirmu, Dek.
Memori-memori indah sejak kau masih bayi dengan cepat kembali merembet.
Mbak Ayun masih ingat waktu kamu pertama kali bisa jalan dan “rambatan” di dinding. Bersuka ria kita serumah bertepuk tangan atas usahamu.
Mbak masih ingat waktu kamu masuk TK dengan diantar naik becak, memakai baju koko yang membuatmu nampak begitu menggemaskan.
Pipi gembil yang putih kemerahan, wajah imut yang kamu punya, dan sifat cengengmu ketika main ke rumah mbak masih terekam dengan jelas di ingatan.
Kamu pun masuk SD, kemudian SMP. Kamu yang jadi satu-satunya laki-laki di antara sepupu-sepupu kecil rumah “Jemur” menjadi pewarna tersendiri bagi keluarga kita.
Meski seringkali kamu di-bully karena cowok sendiri dan suka main sama cewek-cewek, tapi kami tetap sayang sama kamu apa adanya.

Mbak Ayun juga masih inget sama sifat usilmu yang suka nyubit-nyubit pipi orang dan suka ndusel-ndusel ketika yang lain lagi duduk. Itu semua annoying tapi membuat kami rindu dan makin gemas padamu.
Hanya kamu yang bisa membuat kami tertawa karena celotehan ngasal yang bikin kami nyengir.
Hanya kamu yang bisa digandeng-gandeng seenak hati ketika diajak foto bareng.
Hanya kamu yang bisa membuat kami tersenyum oleh kepolosan pertanyaanmu.
Hanya kamu yang berhasil membuat kami tertawa menceritakan perilakumu kepada cewek yang kamu taksir.
Hanya kamu yang bisa bebas bilang mbak Ayun kecil, pendek dan ga jago renang kaya kamu.
Cuma kamu, Dek.

Meski mbak nggak bisa melepas kepergianmu secara langsung, tapi do’a terindah selalu  menyertaimu.
Kami semua kehilanganmu.
Nggak bisa membayangkan gimana perasaan Mama, Papa dan mbak Anggi, Dek.
Mereka sudah pasti sangat kehilangan tawa renyahmu.
Mama, Papa dan mbak Anggi pasti akan rindu dengan segala kelucuan dan kebaikanmu.
Mama, Papa dan mbak Anggi pasti akan kangen dengan anak Paskibraka yang manja ini.

Walaupun kami ingin kamu disini, tapi kamu pasti akan lebih merasa kesakitan jika tetap disini. Maka Allah membawamu untuk menghadap-Nya di bulan mulia ini. Lebih cepat dibandingkan kami semua. Lebih cepat dari Nenek yang mbak tahu, sangat menyayangimu.

Terima kasih, Dek sudah mewarnai hari-hari kami di dunia selama hampir 16 tahun ini. Mbak banyak belajar dari sifatmu yang jujur, apa adanya, gigih, dan sabar. Do’a kami akan selalu menyertaimu. Semoga Allah melapangkan jalanmu, dan  menerima semua kebaikan yang telah kamu lakukan.

Satu hal yang kami mengerti. Kami semua sayaaaaang sekali padamu. Tapi Allah jauh lebih sayaaaaaang padamu, Dek.
Selalu, akan selalu dan terus selalu menyayangimu, adek Angga Satria Widodo.

16 Juni 2001 – 7 Juni 2017

With love,
Mbak Ayun(an) – panggilan sayangmu ke aku.

Selamat jalan Paskibraka gagah kebanggan kami

Komentar