Balada Dosen Anyaran

Terhitung sejak dua semester ini, saya menjadi bagian kegiatan belajar mengajar di dua universitas di Surabaya. Nama universitasnya? Saya rasa tidak perlu disebutkan. Judulnya memang saya masih dosen anyaran, alias dosen yang baru dan masih minim pengalaman. Lantas, kenapa baru cerita sekarang? Ngga di awal-awal semester kemarin aja... Kadang, sesuatu itu akan terasa lebih maknanya ketika sudah dilalui dan diambil pelajarannya. Jadi, pelajaran apa yang bisa diambil dari postingan kali ini, let's cekidot!

Di awal-awal semester genap kemarin, saya diberi amanah untuk mengajar 3 mata kuliah yang berbeda, di 4 kelas. Mata kuliah yang saya ampu adalah psikologi klinis, penyusunan alat ukur  dan psikodiagnostik 1. Kalau dilihat SKSnya memang ngga banyak-banyak banget, dibandingkan dengan dosen yang sudah senior. Tapi namanya juga anyaran, di awal-awal udah ngebayangin "Ini gimana nih... kayanya susah nih...." meski saya udah pernah juga melewati masa-masa mata kuliah tersebut.  

Kalau dari judulnya, saya merasa paling menguasai untuk mata kuliah psikologi klinis. Bukannya kenapa-kenapa, karena saya kuliah S2 ini ambil majoring klinis, jadi kaya udah mendarah daging gitu *cieee. Untuk mata kuliah psikodiagnostik, juga lumayan di awal-awal udah optimis, bisa lah bisa...karena hampir tiap hari di biro yang dihadapi adalah alat tes. Untuk mata kuliah yang terakhir nih, penyusunan alat ukur, saya agak-agak gimanaaa gitu. Secara, dulu waktu S2 saya dapat nilai yang lumayan bikin shock untuk mata kuliah ini. Tapi kemudian, saya justru dapat banyak project dari dosen yang membutuhkan skill penyusunan alat ukur. Saya merasa gagal kala itu, dapat nilai yang kurang memuaskan saat di kelas, kok malahan dapat projectnya tentang ini mulu. Ternyata baru saya sadari, disinilah seninya hidup. Meski dengan nilai yang segitu di kelas, saya justru belajar banyak di luar kelas, terlibat dengan mahasiswa S3, kementerian pendidikan dan kebudayaan, dan pihak fakultas untuk menyelesaikan project yang berkaitan dengan alat ukur. So? Ngga ada yang perlu disesali. 

Kembali ke dunia perdosenan ini. Kali ini saya mau membagi cerita tentang kejadian-kejadian unik semasa ngajar semester lalu. Di awal-awal perkuliahan, memang banyak yang menyangsikan saya. Mahasiswa yang keliatan banget ekspresinya waktu saya masuk ke kelas, "Ini beneran dosen nih?" Ya...secara badan seunyil gini, mereka pasti ragu-ragu itu wajar sih.. Tapi ternyata nggak terlalu jadi kendala karena pada akhirnya kami saling menyesuaikan diri. Panggil memanggil dengan sebutan "Bu" pun tak terelakkan. Mau gimana lagi... ekosistem yang mendukung, jadi saya juga nggak berharap buat dipanggil pake sebutan yang lebih muda macam "mbak" atau "kak."

Selama berjalannya perkuliahan, berbagai macam mahasiswa harus dihadapi. Mulai dari perilaku yang normal, hingga perilaku yang abnormal. Karena saya merasa daya ingat saya masih bagus, jadi saya berusaha menghapalkan nama-nama mahasiswa yang saya ampu mata kuliahnya. Meskipun banyak, ya nggak apa-apa. Saya berusaha respect dengan mereka dengan memanggil namanya. Pernah ada kejadian seperti mahasiswa ketiduran, trus saya nggak tahu akhirnya nggak saya absen. Alhasil dia ngejar saya di kampus udah kaya adegan film India yang kejar-kejaran. Ada juga yang telat ngumpulin tugas sampe nyamperin ke rumah dan dibawakan makanan banyak, katanya buat nemenin koreksi tugas. Pernah juga bertemu beberapa mahasiswa waktu saya lagi belanja di pasar tradisional, pas pakaian saya kaya ibu-ibu. Mereka kok ya notice aja sih... Dan masih banyak pengalaman lainnya yang membuat hidup berwarna menjadi seorang dosen.

Menginjak akhir semester, tentunya ada yang namanya post-test atau ujian kelulusan sebagai salah satu hasil sejauh mana mereka bisa menyerap materi selama satu semester terakhir. Ini sebenernya ngga hanya mahasiswanya aja yang deg-degan, tapi juga dosennya karena sebagai pembuktian sebaik apakah bisa menyampaikan materi kepada mereka. Saya sengaja ngga memberikan ujian tertulis di tempat, lebih ke tugas takehome yang dikerjakan kelompok berupa project.
Pada satu mata kuliah saya meminta mereka untuk membuat video pendek, mata kuliah lain yaitu project penelitian mini, dan mata kuliah lain berupa praktek langsung dengan klien. Saya berpikiran bahwa tugas macam inilah yang nantinya bermanfaat bagi mereka untuk latihan menghadapi dunia nyata di pekerjaan.

Tiba saatnya penilaian, yang menjadi momen deg-degan pastinya buat para mahasiswa. Nilai yang saya berikan, memang bergantung dengan hasil tugas serta proses perkuliahan yang selama ini diikuti. Dilihat dari absensi, keaktifan di kelas, akhlak, dan pemahaman yang mereka dapatkan. Bagi saya, menilai individu dengan berupa angka atau huruf, itu adalah hal yang sulit. Tapi sistem penilaian dimana-mana kan kaya gini ya, jadi mau ga mau harus mengikuti. Setelah selesai memberikan penilaian seobjektif mungkin, ternyata saya mendapat feedback dari mahasiswa.

Ada satu mahasiswa yang bertanya mengapa dia mendapat nilai segini, sedangkan teman-temannya lebih baik? Sejujurnya saya merasa ada perasaan bersalah, takut kalau-kalau cara saya menilai memang kurang bener. Tapi kemudian saya berusaha menghitung kembali dan memang didapatkan hasilnya segitu. Bagi saya, nilai segitu itu sudah bagus dan sudah dinyatakan lulus. Dia pun mengatakan bahwa ingin memperbaiki, tetapi saya pun harus tegas. Bukannya mempersulit, tapi kita juga harus belajar konsekuensi. Teman-teman yang lain sudah usaha hingga maksimal sebelum penilaian selesai, tapi mahasiswa ini baru minta perbaikan setelah nilai keluar. Saya berhak tanya kan, kemarin kemana aja? Tapi saya nggak sejahat itu.. Jadinya saya mencoba menjelaskan bahwa hasil nilai itu bukan segalanya, karena kamu akan belajar untuk manajemen waktu lebih keras nanti setelah lulus kuliah. Yang bisa dilakukan, kita belajar sama-sama supaya semester depan kamu bisa berusaha lebih maksimal lagi. Saya berharap dia bisa memahami itu, dan ternyata Alhamdulillah mahasiswa ini bisa memahaminya dengan mengirimkan pesan berikut:



Lega dan bersyukur bahwa kita sama-sama berproses. Setidaknya, saya ngga mau memberikan pandangan bahwa meraih nilai itu gampang, harus ada usaha dan jerih parah di balik itu semua.

Ada lagi hal menarik yang membuat saya merasa gemes sebenernya. Di salah satu ujian di universitas lain, saya mengadakan ujian tertulis karena ngga mungkin praktek. Mereka masih semester 2 dan memang materi kuliahnya masih banyak teorinya. Seorang mahasiswa menjawab pertanyaan ujian dengan kaya gini dong....

"Seinget saya sih......" -___- menurut ngana? Ini jawab pertanyaan wartawan infotainment?


Ah, ya itu lah dinamikanya menghadapi mahasiswa. Bagi saya, pengalaman-pengalaman lucu itulah yang menjadikan suatu pekerjaan lebih berwarna. Tidak melulu serius, perlu memang bercanda macam itu supaya otak lebih rileks.

So... enjoy saja dengan pekerjaan yang sedang dilakukan sekarang ini. Mungkin saya sekarang masih junior, tapi proses akan terus berlanjut dan akan ada banyak kejutan sepanjang perjalanan ini. Selamat menikmati!

Komentar