Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian

Ketika dini hari ini saya terbangun, di tengah pusingnya kepala, saya harus tetap terbangun untuk bisa bermuhasabah kepada Allah, malam memang memberika satu waktu untuk kita bisa merenung. Menyesali dosa, mensyukuri nikmat, meminta hajat yang diinginkan. 
Sore tadi, saya membuka akun socmed yang mungkin setiap hari saya buka, twitter.com. Saya menemukan berbagai status dari teman-teman yang mengeluh mengenai judul skripsi, dan referensinya yang berupa jurnal ilmiah. Boleh kan saya tertawa? Ketika melihat teman-teman yang mengeluh dalam proses menuju kelulusan ini. Saya pernah berada dalam kondisi itu, dan Alhamdulillah saya tidak merasa se-deserate mereka yang sepertinya sangat putus asa dan ingin menghilangkan skripsi dari muka bumi agar bisa mengenakan toga. Hey guys, life is process! Kalau tidak ingin proses, hidup dimanakah anda? Bumi bisa menjadi bulat pun butuh proses. Ketika menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa ada orang yang lebih susah daripada kita, ada orang yang mengalami hal lebih sakit daripada kita. Tengoklah ke bawah, jangan tengok ke atas, "Wah, Ayuni enak ya uda sarjana, skripsinya lancar..." Saya cuma tersenyum ketika orang-orang berkata seperti itu, dalam hati saya berkata, "Alhamdulillah...Allah selalu bersama saya...meskipun susah, 9 bulan berjibaku dengan skripsi dan kalian ga tahu prosesnya yang diiringi tangisan hingga berbulan-bulan begadang demi skripsi ini, tapi saya selalu bersyukur karena hasilnya sangat manis". Orang tidak tahu proses kita, orang tidak tahu susahnya kita, saat kita ada di lembah jurang terdasar, siapa yang mengangkat kita? Allah...dan tentunya orang tua. Mereka tidak mau tahu betapa susahnya kita hingga berkata, "Enak yaa.....". Maaf kalau sedikit kasar ya, "Menurut lo? Ini semua ga pake doa dan usaha?" 
Sekarang, ketika saya sudah lulus dan melihat teman-teman yang baru mencari judul saja sudah mengeluh, apalagi kalau nanti judulnya ditolak, wah kiamatlah dunianya. Ga habis pikir, masa muda mbok ya dibuat untuk berjuang, berpikir, bukan hanya untuk senang-senang dan menghabiskan waktu untuk pacar yang nggak jelas mau nikah kapan kan? Maka dari itu, thinking..berpikirlah, tentang masa depan, prihatinlah...bahwa Allah akan memberi kebahagiaan setelah kita mengalami proses. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. 
Semoga....amin...

Komentar