Hijrah ukhti?


Hijrah, dapat diartikan sebagai 'meninggalkan' yang mana di dalamnya mengandung unsur ada hal yang ditinggalkan, dan ada hal yang dituju. Pada zaman Rasulullah, beliau melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah demi tegaknya agama Islam. Meninggalkan segala kekufuran demi bisa menjalani kehidupan yang lebih baik di tempat yang lain, tidak sedikit yang dikorbankan yaitu harta, benda bahkan jiwa. Itu yang dilakukan oleh Rasulullah dan ummatnya pada zaman tersebut.

Lalu, apa korelasinya dengan zaman sekarang?
Seringkali saya melihat berbagai postingan di media sosial tentang hijrah. Hijrah seringkali dikatakan ketika ada peristiwa seorang perempuan yang awalnya tidak berjilbab kemudian ia memutuskan untuk berjilbab. Hal tersebut dinamakan 'hijrah,' karena ia meninggalkan masa-masa sebelum berjilbab kemudian saat ini menutup aurat. Utamanya jika hal tersebut dilakukan oleh figur publik. Kemudian munculah berbagai komentar berupa sanjungan namun ada juga yang hinaan karena mencari sensasi, meningkatkan popularitas, dan lain sebagainya.

Tidak ada yang salah dengan sebuah perubahan menjadi lebih baik.

Hal yang menjadi salah adalah, ketika perubahan yang lebih baik itu diselipkan berbagai misi yang sebenarnya tidak krusial. Postingan tentang hijrah tidak hanya satu atau dua, banyak sekali.... Kemudian mulai muncul yang namanya akun-akun bertemakan hijrah dan mengajak untuk belajar agama. Munculnya dakwah-dakwah singkat yang bisa didengarkan dan dilihat dengan visual yang menarik di internet, menjadi acuan dalam belajar agama. Dari berbagai platform sosial media, dimana seseorang ini mungkin saja tidak mendengarkan secara keseluruhan, alias setengah-setengah. Seruan-seruan berupa ajakan nikah muda menjadi topik paling hot rasanya saat ini.

Tidak ada yang salah dengan menikah muda.

Dengan catatan sebagai berikut, apakah sudah benar-benar siap mengemban tanggung jawab sebagai suami/istri? Apakah sudah benar-benar siap dalam memberikan nafkah? Apakah benar-benar sudah siap untuk nantinya menjadi seorang ibu dan madrasah pertama dari anak-anaknya? Apakah benar-benar sudah siap untuk mengesampingkan ego untuk mencapai tujuan bersama? 
Saya menekankan kata 'benar-benar' karena hal tersebut tidaklah mungkin. Butuh persiapan. Tidak hanya untuk menghindari zina.
Menghindari zina bisa dilakukan dengan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Masa muda bisa diisi dengan melakukan hobi, berkumpul bersama teman untuk berdiskusi, belajar dan berkreasi. Mengikuti kajian-kajian secara real time secara istiqomah dan menjalin silaturahim yang baik dengan Ustadz-Ustadzah. Galau masalah pasangan itu bisa sekali diatasi dengan cara penanganan yang tepat, dengan syarat orang tersebut mau berubah. Solusi utamanya bukan dengan menikah muda.

Hal ini yang kadang membuat saya menanyakan ulang definisi 'hijrah' bagi ukhti-ukhti tersayang. Hijrah untuk menutup aurat itu sangat baik. Tetapi kalau selanjutnya definisi hijrah kemudian menikah muda demi menghindari zina, coba dipikir ulang deh. Tidak harus kok hijrah itu langsung bisa menjadi orang yang alim, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Saya lebih senang mengatakan bahwa hijrah itu adalah proses. Bahwa ada kesadaran untuk mengubah diri menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Tidak langsung seketika, pikiran spontan yang berawal dari emosi sesaat. Melihat teman berjilbab, ah ikut berjilbab. Melihat teman-teman sudah pada menikah, lalu panas dan galau mencari jodoh. Tidak, bukan itu esensinya.

Ketimbang galau memikirkan jodoh yang tak kunjung datang, kenapa tidak mencoba untuk perlahan memperbaiki diri? Nikmati saja perjalanan itu selagi masih belum bertemu. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia selama kita mampu berbuat positif dan yang baik-baik. Kenapa tidak coba untuk bisa mengadaptasi perilaku santun Khadijah istri Rasulullah? Dengan perilaku yang baik dan ditetapkan waktu yang tepat, insha Allah akan diberikan sama Allah seseorang yang terbaik juga.
Resah itu mungkin ada, tapi tidak perlu dibuat berlarut-larut. Tak ada orang yang ingin seumur hidupnya sedih, begitu pun Allah tak akan membuat makhluk-Nya seperti itu terus menerus. Jadi, tetap berusahalah untuk bisa mencapai versi terbaik dari dirimu dan tunggulah waktu yang tepat dari Allah.

Komentar