Usia yang sudah
memasuki hampir seperempat abad menandakan bahwa pertumbuhan tubuh sudah
mencapai maksimal. Begitu juga dengan pertumbuhan gigi dan gusi, yang dulu
waktu kecil kita diminta untuk banyak mengonsumsi kalsium agar pertumbuhan
keduanya cepat dan kuat.
Sekitar 2 tahun
belakangan, saya merasakan gigi bagian kanan saya sering ngilu. Tiba-tiba aja
datangnya, dari mulai skala ngilu ringan hingga ngilu berat. Tapi tetap
letaknya di sekitar gigi bagian kanan bawah. Pernah pada tahun 2014 saya diajak
bapak buat periksa di klinik gigi keluarga, di area Papaya Surabaya, kemudian
diperiksa oleh dokternya. Hasilnya, gigi saya baik-baik saja. Oleh dokternya
diminta untuk melakukan foto gigi, saya diminta untuk ke laboratorium. Tapi
waktu itu saya nggak melakukan karena saya pikir nggak ada masalah kok, ya
masih bisa ditahan lah ya sakitnya. Lagian juga nggak sering-sering banget.
Tapi memasuki tahun
2016, kok gigi daerah tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda rewel. Mulai
ngilu-ngilu nggak jelas, terutama di saat pagi hari bangun tidur. Udah mencoba
untuk kumur air hangat dicampur dengan garam, tapi tetap aja sakitnya nggak
berkurang. Hingga puncaknya, ketika Ramadhan 2016 ini sakitnya benar-benar
nggak tertahankan.
Masa iya sih bolong?
Saya rajin sikat gigi tiap hari terutama sebelum tidur dan nggak sering
makan-makanan manis juga.
Daripada
berspekulasi, akhirnya bapak kembali mengajak saya ke dokter gigi. Kali ini
diajak ke praktek dokter pribadi langganan beliau di Jl. Ngagel. Sesampainya
disana, yaaahhh tutup. Alhasil harus ada opsi kedua, yang akhirnya jatuh kepada
Rumah Sakit Angkatan Laut. Pertimbangannya karena deket rumah dan pelayanannya
bagus. Setelah sampai, ditanya oleh petugasnya pakai BPJS atau nggak? Nah
lho... baru inget, kalo mau pakai BPJS harusnya periksa ke Faskes pertama dulu,
di Puskesmas. Ah elahhh.... daripada ribet dan lama, kata bapak bilang aja
“Nggak pake, umum aja...” Ya udah deh, manut aja sama Pak Bos. Tidak lama
kemudian, kartu periksanya jadi dan menuju poli gigi. Agak lama juga
menunggunya, meskipun pasiennya nggak begitu banyak. Setelah masuk, dijelaskan
dulu mengenai hak dan kewajiban pasien, dikasitau informasi cuci tangan yang
baik dan benar, dan akhirnya tanda tangan di informed consent. Setelah itu baru
deh diperiksa dan bilang keluhannya apa. Oleh dokternya dibilang, “Lho ini
giginya bagus kok... coba foto dulu aja ya di radiologi...”. Saya pun diberi
surat rekomendasi buat foto gigi dan nunggunya ga lama, kemudian difoto di
radiologi hasilnya langsung jadi kemudian dibawa lagi ke poli gigi.
Setelah dokternya
lihat, “Ohh....lah ini giginya tumbuh semua di pojokan, nyundul lainnya makanya
sakit... harus dicabut ini....”
Udah horor sendiri
dengar kata “Dicabut”. Mau nggak mau, harus berurusan dengan obat bius dan
darah lagi. Hiks sakitnya udah di depan mata.
Kemudian dokternya
menjelaskan bahwa memang posisi rahang yang kecil membuat gigi geraham bungsu
tidak bisa tumbuh sempurna. Alhasil mau tidak mau jika ada keluhan sakit, gigi
geraham bungsu tersebut harus dicabut. Sementara ini masih yang kanan bawah,
entah selanjutnya. Menurut beliau, ke-4 geraham bungsu ini harus dicabut karena
posisinya yang miring nggak jelas. Kemudian saya direkomendasikan ke spesialis
bedah mulut masih di poli gigi RSAL.
Saya pun menuju ke
poli bedah mulut. Bertemu dengan dokternya yang rada horor penampilannya,
bapak-bapak angkatan yang ternyata adalah dokter gigi. Beliau bilang harus ada
operasi kecil untuk mencabut gigi tersebut karena letaknya yang “nyempil” di
pojokan. Sekiranya saya kapan ada waktu, karena ini nggak bisa sembuh dalam 1-2
hari, sedangkan lusa sudah Idul Fitri. Akhirnya saya pun memutuskan untuk H+6
Idul Fitri saja lah, sebelum saya kembali ke Jogja juga karena proses
penyembuhannya memerlukan waktu sekitar 7 hari.
Tibalah hari
eksekusi. Saya berangkat sesuai jadwal yang ditentukan. Ternyata rata-rata yang
datang pada hari itu juga mau nyabut gigi geraham bungsu, kasusnya sama seperti
saya, umurnya pun rata-rata antara 23 hingga 27 tahun. Ya sama kalo gitu...
Saya duduk di salah
satu kursi penuh dengan alat yang disediakan. Kemudian diminta kumur dulu, dan
berdoa dulu. Dokter yang menangani saya ada 2 dan 1 perawat. Saya percayakan
proses ini pada beliau berdua yang sudah senior ini, bapak-bapak angkatan ini. Pertama
disuntik anestesi dulu yang rasanya ngilu perih tapi masih bisa ditahan,
kemudian 5-10 menit pipi bagian kanan saya langsung mati rasa. Nggak kerasa
apa-apa, dan gusi ditusuk-tusuk juga nggak kenapa-kenapa. Sebagian lidah pun
rasanya kaku. Kemudian dimulailah prosesnya dengan memasukkan berbagai benda
yang saya nggak tahu apa namanya, Cuma bisa merem aja dan napas pelan-pelan.
Pak dokter yang berwajah lebih senior mengatakan pada saya, “Rileks aja ya,
tetap bernapas....”. Ya iya dok, masa iya saya nggak napas... -_-
Dokter tersebut
menenangkan sambil bersenandung kecil yang bilang kalau gigi kecil ini akan
dibelah, diambil, kemudian saya bisa pulang ke rumah. Lucu juga sih, kaya saya
masih umur 10 tahun diginiin, tapi cukup bisa membuat saya tenang. Berbagai
bunyi mesin yang berdesing cukup memekakkan telinga dan terasa juga saya nelan
sesuatu, darah. Hiks... saya coba konsentrasi, “Sakit ini hanya sementara....
nggak akan selamanya, tenang....”. 20 menit berlalu dan sampailah pada proses
terakhir. Saya diminta untuk menggigit sebuah kapas dan selam sejam ke depan
tidak boleh diludahkan apa pun yang dirasakan di dalam mulut.
Saya diberi sebotol
kecil obat kumur dan sebuah sikat gigi dengan bulu super halus yang digunakan
untuk sikat gigi. Seminggu lagi saya harus kembali untuk diambil jahitannya dan
semoga tidak ada masalah. Setelah menyelesaikan administrasi, saya pun pulang.
Sampai di rumah,
saya sengaja nggak mau ngomong karena sulit juga untuk ngomong. Sejam ke depan
itu juga saya tidak boleh makan dulu. Kapas yang tadi sejam saya gigit, saya
ganti dengan kapas baru, dan whaaat itu darahnya banyak banget. Hiiiii serem
banget liatnya. Dua jam pun berlalu, efek dari obat bius sepertinya sudah mulai
memudar, karena saya mulai bisa menggerakkan pipi dan mulai kerasa ngilu. Tiga
jam kemudian, waktunya makan siang saya Cuma bisa makan dua sendok nasi udah
nggak mood lagi makan karena ngilu. Belum kalo habis makan harus sikat gigi dan
kumur pakai cairan kumur tadi. Akhirnya saya berusaha tidur dan melupakan rasa sakit
yang masih nyut-nyutan banget ini.
Besok paginya, kok
ada yang beda ya? Astagah....pipi kanan saya menggembung udah kaya tahu bulat
aja. Bener-bener jadi asimetris banget wajah ini. Dipegang rasanya sakit,
dibuat makan juga ngilu. Itu berlangsung sampai 3 hari, hingga hari ke-4
berangsur-angsur mulai kempes meskipun masih belum bisa makan banyak. Bekas
jahitannya masih terasa kasar juga tapi sudah bisa tersenyum sih meskipun
dengan bentuk pipi yang asimetris.
Hari ke-7, saya pun
ke dokter lagi dan diambil lah jahitannya oleh perawat gigi, hanya butuh 3
menit untuk ngambil kemudian saya boleh pulang. Alhamdulillah... udah ga kerasa
sakit meskipun sekarang kalau makan jadi agak mengunyah di bagian kanan karena
ada bagian yang hilang, alah apa sih.
Sekembalinya ke
Jogja, ternyata ada sekitar 4 orang teman saya di kelas yang juga habis
menjalani operasi cabut gigi geraham bungsu ini. Wahhh memang berarti di
usia-usia segini ini si geraham mulai mencari perhatian. Ini baru satu gigi,
belum kalo 4 gigi. Sebenarnya saya ada jadwal cabut gigi 3 geraham dengan
memakai BPJS dan gratis, tapi kalau cabut langsung banyak gigi tersebut harus
diopname sekali an di rumah sakit karena benar-benar nggak bisa makan. Wahh
bayangin aja kemarin satu gigi rasanya kaya gitu, apalagi langsung 4 gigi kan?
Ampuuun... nggak lah, gimana bengkaknya coba. Hiii...
Komentar