Cerpen Different

Sebuah cerpen yang pernah dimuat di salah satu media di Surabaya.. Lebih tepatnya, cerpen pertama Ayun yang dimuat di majalah. Hehehe....
Ada sebuah nilai Psikologi yang bisa diambil dari cerpen ini.
Let we see and analyze it !
-->


DIFFERENT

Kubuka lembar pertama……….
Teringat kembali kenangan indah dan kelabu masa kecilku..............
Di sana
Nan jauh
Bersama keluargaku...........dulu
Dan orang baru
Lahir di tengahnya. Mengubah jalan hidupku
**********
Aku tak bisa tidur malam ini, tanpa pelukan dari ibuku. Ya, ibu......ibu berada di rumah sakit. Akan melahirkan anggota baru di keluargaku. Lebih tepatnya adikku. Pagi harinya, aku sengaja tak masuk sekolah, karena ingin sekali menemani adik baruku seharian ini.
3 hari kemudian, ibu pulang. Ibu dan ayah memberi nama adikku Lala. Aku telah memberitahukan berita ini kepada semua teman-temanku. Mereka semua datang ke rumahku, Ibu guru pun juga. Sampai pada akhirnya, semua anggota keluargaku dan tetangga-tetangga di sekitar rumahku datang untuk melihat Lala. Semuanya memperhatikan Lala. Tak satupun dari mereka menggubris keberadaanku di sana. Namun, sebagai kakak yang baik, aku merasa maklum, karena mereka semua punya niat ke rumahku adalah untuk melihat Lala, bukan untuk melihatku. Dan ini hanya berlangsung selama akhir-akhir ini saja kan...........pikirku.
Namun.............hal ini tak berlangsung selama 2-3 hari. Sampai 1 tahun kemudian. Setiap hari yang diprioritaskan hanya Lala. Aku seperti terasing di planet lain. Padahal, aku berada di rumahku sendiri. Kau pasti akan merasa terpinggirkan. Semua kasih sayang ibu dan ayah tercurah hanya pada adik. Setiap kali aku minta makan, mandi, tidur, bahkan pakai baju pun aku lakukan sendiri. Mungkin menurut anak-anak lain yang seumuranku. Hal itu terasa sulit, namun tidak bagiku karena aku sudah terbiasa melakukannya sendiri.
Kadangkala aku merasa sangat sayang........pada Lala. Namun kadangkala juga aku merasa sangat tidak senang pada Lala. Saat melihat wajahnya yang begitu menggemaskan dan lucu, aku jadi merasa sangat senang pada Lala. Namun saat melihat perlakuan yang sangat berbeda antara aku dan Lala. Aku jadi menyesal, mengapa aku punya adik seperti Lala. Tapi, bagaimanapun juga aku sebagai kakak yang baik dan bertanggung jawab, harus menyayangi Lala.
Sering aku merasa, apakah aku anak dari orang tuaku? Janagan-jangan aku anak pungut yang mereka ambil dari panti asuhan. Aku berpikiran ini bukan tanpa dasar. Ibuku seorang keturunan Tionghoa yang berkulit putih dan cantik. Sedangkan ayahku seorang orang Sumatera yang berkulit sawo matang dengan rambut, hidung, mata yang bagus. Sama seperti ibuku. Sedangkan aku, bertubuh pendek dan gendut, berkulit hitam berambut merah keriting. Berbeda sekali dengan ayah, ibu apalagi Lala, yang menurut orang-orang yang mengunjunginya sangat cantik dibandingkan waktu aku kecil dulu. Bukannya aku tidak mensyukuri karunia Tuhan, tapi mengapa aku tidak mempunyai ciri-ciri tubuh seperti halnya orang tuaku. Sedangkan Lala, sangat cantik seperti ibuku.
Kadang aku menangis. Mengapa Tuhan mentakdirkan aku seperti ini? Rasanya tak adil jika hanya aku yang tidak diperhatikan. Aku merasa minder dan malu pada diriku sendiri, apalagi orang lain. Hari demi hari, kujalani dengan gejolak batin. Hingga suatu saat kubuktikan. Aku tak serendah yang kukira. Aku mendapat peringkat 1 di kelasku, dengan jerih payah yang telah kuusahakan-tidak sendiri. Namun hal itu tak jua membuat orang tuaku bangga padaku. Lantas, apa yang harus kulakukan agar membuat orangtuaku bangga mempunyai anak seperti aku?

Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Lala sudah menjadi besar. Ia sudah pandai membaca dan berhitung. Tentu saja karena dia sudah masuk SD. Saat aku melihat Lala, teringat kembali saat aku seumuran Lala aku sudah punya adik lagi. Dan teringkat pula olehku, saat-saat sebelum Lala ada. Aku begitu dimanja dan disayang, seperti halnya Lala saat ini.
Saat perpisahan sekolah di TK-nya. Lala mendapat piala karena berhasil meraih peringkat pertama di sekolahnya. Ke-2 orang tuaku sangat bangga sekali. Mereka begitu memuji-muji Lala. Memang………aku tak pernah mendapatkan piala sekalipun. Namun setidaknya….aku selalu meraih peringkat pertama di sekolahku selama 4 tahun terakhir ini. Mereka langsung menuruti permintaan Lala yaitu membelikan Lala boneka barbie plus rumahnya yang sangat bagus itu. Kira-kira harganya 1 juta rupiah. Padahal barang itu yang dari dulu kuidam-idamkan dan setiap kali ulang tahun, aku selalu memintanya. Namun memang barbie itu bukan rejekiku, jadi biarlah itu menjadi milik Lala. Toh, aku bisa bermain bersama Lala dengan barbie itu, pikirku. Namun, tak dinyana..............ibu tak memperbolehkanku menyentuh apalagi bermain dengan barang itu. Pernah suatu kali aku ketahuan bermain boneka itu sendiri. Dan ibu pun marah besar. Aku disuruh bermain sepeda di luar. Padahala di luar sangat panas, panas sekali, sehingga tak ada seorang pun yang mau menginjakkan kaki di luar rumah. Hanya aku dan sepeda kecilku yang ada diluar. Sepeda ini, hadiah ulang tahunku yang ke-5 dari ayah. Sebelum Lala lahir. Namun, harganya sangatlah kontras dengan boneka barbie plus rumah Lala. Aku bersenandung sendiri, menghibur diri.
Aku mulai masuk ke bangku SMP. Aku mulai tak merasakan perbedaanku dengan Lala. Kami sama-sama manusia yang diciptakan oleh Allah. Apa yang bisa dibanggakan dari sesosok manusia seperti aku dan Lala? Aku tak perduli. Aku mengalihkan kesedihanku pada hal-hal yang positif, aku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Aku juga sering mengikuti training-training jurnalis di berbagai sekolah dan media massa terkemuka di kotaku.
Aku masuk di SMA baru. Aku menjalani masa-masa indah remajaku di sini. Dan Lala pun sekerang telah menginjak kelas 4 SD.
Sweet seventeen………..
Aku merayakan hari istimewaku di panti asuhan, bersama anak-anak yang kurang beruntung. Aku pun sadar, kalau aku lebih beruntung daripada mereka. Aku masih mempunyai 2 orangtua yang lengkap dan mau menyekolahkanku. Sedangkan mereka, orang tua pun tak punya, apalagi kasih sayang?
*************

"Luna……..come on! We pursue the time!" ujar Robin memanggilku.
"Just a minute Robin!" kataku sambil menutup buku diaryku yang berwarna putih itu.
Sekarang, aku berada di kota London negara Inggris, menjadi seorang jurnalis di BBC . Mengejar cita-citaku menjadi seorang jurnalis ternama. Aku menjalaninya bersama Lalinda Mega Cahya atau yang biasa dipanggil “Lala”.



Love Luna

Komentar