Sekelumit cerita di Kawah Ijen

It's been a long time buat menulis di blog ini lagi... Sebenarnya antara sibuk dan prokrastinasi sih ini, oke ini rasionalisasi. Saya mau cerita tentang pengalaman yang terjadi teoat sebulan yang lalu....
Here we go!

Akhirnya bisa merasakan pendakian ke Gunung lagi, setelah sekian lama memendam rindu menghirup udara sejuk gunung. Awal bulan Februari ini saya berkesempatan buat jalan ke gunung Ijen yang terletak antara perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso di Jawa Timur. Rute yang kami tempuh cukup jauh, dari Surabaya ke Banyuwangi sekitar 250 km ditambah ke daerah Paltuding sekitar 24 km.
Saya dan keluarga berangkat dari Surabaya pagi jam 9, nyantai-nyantai aja karena memang ga diburu waktu. Sempat mampir di tempat makan di daerah Situbondo waktu siangnya, kemudian melanjutkan perjalanan lagi yang masih kurang 70 km. Sempat mampir juga di daerah pesisir pantai Putih cuman buat mengagumi keindahan pulau Bali dari jarak dekat, Masya Allah bagusss banget seperti nirwana dengan awan biru yang sangat cerah.

 

Kemudian kami juga melewati PLTA terbesar di pulau Jawa yang selalu membuat saya tercengang karena saking besar dan megahnya, melewati hutan belantara setelahnya. Bertemu monyet-monyet yang turun ke tengah jalan dan membuat kami semua harus pelan-pelan, karena ga mau menabrak makhluk penghuni hutan itu. Mulai masuk daerah Banyuwangi, saya dan Bapak jadi nostalgia atas kejadian setahun lalu ketika kami backpacker ke Bali dengan naik alat transportasi pesawat, bus, kapal, hingga kereta api, lengkap bener. Pelabuhan Ketapang yang merupakan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Bali di depan mata, dan tidak jauh sekitar 700 meter ada stasiun kereta api Banyuwangi Baru. Kami tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian waktu Bapak masih kuat diajak lari-lari demi mengejar kapal yang mau berangkat dan rela saya tarik-tarik buat bisa jalan jauh di Bandara menuju pesawat.

Tidak jauh dari pelabuhan Ketapang, kami sudah disambut oleh mbak Ulfa yang merupakan teman Ibuk. Mbak Ulfa ini adalah salah satu tour guide di Banyuwangi yang menawarkan tour di sekitar Jawa Timur hingga Jogja. Kami disarankan buat menginap di Hotel dekat sini karena kalau hotel di daerah Ijen udaranya sangat dingin dan fasilitasnya tidak begitu bagus. Baiklah, kami pun menginap di Hotel Mahkota Plengkung yang ada di daerah Kalipuro. Sepi bangeeet....baru sadar kalo hari ini tanggal 2 Februari kan hari Senin, pantesan sepi kan bukan weekend. Hotelnya lumayan bersih, dengan arsitektur gaya Jawa-Bali. Setelah menaruh barang, jam menunjukkan pukul 17.00. Saya dan Tita jalan-jalan mengelilingi hotel dan yeay ada kolam renang, ngga butuh waktu lama saya dan Tita nyemplung deh ke kolam renang. Eh ternyata Bapak juga ikutan, berasa kolam renang pribadi aja ini cuman ber-3 di sini. Hitung-hitung berenang dulu, pemanasan sebelum mendaki besok.

Malamnya, kami mau nyari makan dan bingung mau makan dimana. Sebenarnya di Hotel ada Restoran, tapi mau nyari yang khas Banyuwangi. Muter-muter sekitaran Alun-Alun, sempat salah jalur karena satu arah untung aja dikasih tahu sama penduduk sekitar. Akhirnya kami memutuskan buat makan di Taman Sri Tanjung, tempat ini semacam Alun-Alun yang bernama Sri Tanjung. Asik juga tempatnya, kalau di Surabaya kaya Taman Bungkul tapi versi lebih besar. Memang nggak menjual makanan yang khas banget dari Banyuwangi, karena kami nggak tahu apa khasnya Banyuwangi. Makanannya lumayan bisa dirasakan untuk ukuran pedagang kaki lima. Sudah kenyang, waktunya pulang dan istirahat buat menyiapkan tenaga nanti jam 00.00 kami mulai naik ke atas.

Cukup tidur, jam 12 tengah malem kami siap-siap dan berangkat menuju Paltuding. Mbak Ulfa yang nyupirin, karena dia udah terbiasa dengan medan di Gunung Ijen yang menanjak dan udah hapal dengan tikungan-tikungannya. Beberapa kali dia cerita pernah bawa wisatawan bule dan mobilnya kena musibah, nyungsep di lumpur, pas hujan-hujan pula. Benar-benar pengalaman yang nggak terlupakan katanya. Perjalanan sekitar 30-40 menit ini membuat kami ga bisa tidur karena tengah malam menyusuri hutan demi bisa naik ke area parkiran Ijen. Sampailah di Licin, para penjaga sudah menanti dan menanyakan tujuan kami. Pas sudah tahu kalo yang nyupir mbak Ulfa, kami dibiarin aja masuk karena udah kenal banget sama mbak Ulfa ini. Trus sampailah di area parkiran jam 01.20. Oh iya, waktu di Licin ada seorang teman Ibuk yang juga mau ikut naik ke atas. Teman Ibuk ini orang Banyuwangi tapi belum pernah naik ke Ijen, ia menaiki motor sendirian dengan anaknya yang masih kelas 5 SD. Amazing banget Ibu-Ibu itu bawa motor sendirian di tengah dinginnya udara malam gini.

Bulan purnamanya terang, sinarnya benar-benar membuat bintang di sekitarnya terlihat lebih terang. Masya Allah....benar-benar malam yang indah dengan bintang-bintang bertaburan di mana-mana. Kapan lagi bisa melihat pemandangan macam ini kalau nggak di Gunung atau Pantai yang masih alami. Kata para penduduk, kalau bulan purnama gini ini udara lebih dingin dari biasanya.

Loving the stars with my way, loving stars like I’ve never seen before, loving stars like a fool.

Rasanya pengen berlama-lama di sini dengan hanya memandangi bintang yang bertaburan di langit, really amazing moment in my life!

Waktu keluar dari mobil, brrr berasa dinginnya sampe ke telapak kaki. Baru sadar kalo saya lupa pake kaos kaki, akhirnya nyariin kaos kaki deh sama sarung tangan. Namun kami semua kecewa dengan kabar kalau tidak diperbolehkan mendaki pada jam-jam ini karena gasnya lagi berbahaya banget. Baru bisa mulai mendaki jam 4. Akhirnya kami pun nunggu di dalam mobil buat tidur lagi. Banyak pihak yang kecewa terutama para travel yang membawa turis dari luar negeri. Mereka jauh-jauh datang ke Ijen untuk melihat fenomena blue fire yang legendaris itu. Blue fire ini hanya terjadi dia 2 daerah, yaitu di Indonesia dan Islandia. Masya Allah.... Indonesia ini alamnya memang benar-benar luar biasa.

Meskipun memendam kekecewaan belum bisa lihat blue fire, tidak mematahkan semangat untuk bisa naik gunung kok, tenang saja. Pas jam 4 kami berangkat ke Pos pertama, disana udah ada puluhan orang yang ingin naik ke Ijen. Rata-rata anak kuliahan dan usia 20-an, ada juga beberapa bule bersama temannya, pasangannya, dan geng-nya. Ada juga wartawan dari luar negeri dengan peralatan kamera yang lengkap, wuiih hebat banget lho mereka bawa peralatan itu sendiri sambil naik gunung.
Here we go! Bismillah....
Jalanan awal masih landai, kami para pendaki di tengah gelap dan dinginnya udara membelah jalanan berbekal senter. Kami ber-5 ditemani oleh seorang guide yang bernama Pak Mat Agis yang sehari-hari bekerja sebagai penambang. Ia menceritakan tentang segala hal yang sekiranya penting untuk kami ketahui. Jalanan mulai naik, mulai membungkuk nih, ga bisa tegak lagi jalannya. Segera Pak Mat mencarikan kami tongkat yang diambilnya dari ranting kayu yang sudah mati di kanan kiri jalanan, tentunya dengan dibersihkan dulu rantingnya. Tidak butuh waktu lama, kami sampai di sebuah pos. Para pendaki mulai banyak yang kelelahan dan berhenti di tempat-tempat yang sekiranya enak buat berhenti. Semakin ke atas, semakin dingin nih...tapi kami mulai bisa melihat ke bawah, Banyuwangi dari setengah jalan menuju Ijen. Entah kenapa saya nggak ngerasa capek sedikit pun, kaki masih kuat banget dan malah nggak bisa diajak berhenti buat jalan. Tenggorokan juga nggak kerasa haus, itu karena efek masih pagi kali ya kan belum panas. Jadi air minum saya masih berkurang sedikit banget.
Di saat seperti ini saya kasihan sama Ibu, karena beliau kelihatan banget udah capek, tapi semangatnya masih tinggi banget. Begitu juga dengan teman Ibu dan anaknya, kata temen Ibu ini, “Umur emang nggak bisa bohong....” Tampaknya perkataan itu memang benar, karena beliau-beliau ini sudah berusia kepala 4, kalo dibandingkan dengan saya dan Tita masih pada usia kuat-kuatnya fisik, ya tentu saja nggak bisa disamain. Jadi, saya pun harus lebih sabar nemenin Ibu buat bisa jalan bareng, meskipun sedikit-sedikit berhenti. Rombongan demi rombongan melewati kami, ada rombongan dari Mahasiswa pecinta alam Fakultas Teknik UI, dan banyak lagi yang datang bergerombol antara 2-7 orang. 

Satu hal yang harus dipastikan, selama perjalanan kita harus ekstra hati-hati terhadap para penambang belerang dari arah yang berlawanan. Kita harus mengalah untuk memberi mereka jalan, karena sebenarnya jalanan ini adalah hak mereka, kan mereka yang mencari nafkah disini. Nggak ngebayangin gimana rasanya jadi mereka yang setiap hari menjalani rutinitas ini sebelum fajar subuh. Di tengah perjalanan, terlihat matahari mulai menyembulkan sinarnya yang membuat seantero jagad terasa hangat, sinarnya membuat terang sedikit demi sedikit. Lihat ke kanan dan Masya Allah.....bagusnya.... ada deretan gunung Raung yang dilatar belakangi degradasi warna jingga. 



Kami tetap terus berjalan, perlahan-lahan tampak warna biru dari langit mulai terang. Selat Bali yang memisahkan pinggiran pulau Jawa dan pulau Bali terlihat jelas. Bagusnya.... >.<


Ini artinya sudah separo perjalanan lebih sudah kami tempuh. Kemudian sampailah kami di Pos timbangan 1 yang merupakan pos peristirahatan bagi para penambang. Di pos tersebut ada sebuah warung yang menjual berbagai makanan instan seperti pop mie dan minuman hangat. Tapi sayang belum buka...lagian juga saya belum haus, tapi agak lapar juga sih. Kok ya lupa tadi ga bawa bekal roti dari bawah, padahal udah disiapin. 

Kami masih jalan terus, dengan medan yang tidak semenanjak tadi. Namun jalannya makin sempit dan terdiri dari tanah dan kadang ada ranting-ranting yang menghalangi. Hingga akhirnya terlihat tanah yang berwarna coklat, semakin naik dan semakin naik. Waaaah....Alhamdulillah sampai juga di tempat yang dituju. Kawah berwarna biru dengan indahnya terpampang nyata di depan kami....


Anginnya kenceng bangeeet....intinya bagus banget, ga bisa dideskripsikan dengan kata-kata betapa senangnya bisa sampai di puncak ini.

Meskipun nggak bawa bendera kaya yang dilakukan oleh para rombongan lain, kami tetap harus mengabadikan momen ini. Ibu, saya dan Tita di Kawah Ijen. 




Kemudian pak Mata menunjukkan di mana para penambang tersebut mengambil belerang, ternyata harus turun untuk mendekati bibir kawah. Disanalah letak belerang yang masih sangat panas itu berada, dalam keadaan cair kemudian menunggu untuk menggumpal dan dibawa ke atas. Dari tempat saya berdiri hingga ke bawah letak belerang itu masih ada 800 meter jaraknya dengan jalanan turun, licin, berbatu dan rawan longsor. Di sanalah blue fire malam hari terlihat dengan jelas. 
Pas lagi melihat ke arah belerang, tiba-tiba kami dikagetkan oleh teriakan orang-orang di sekitar yang bilang "Awas batu, Awas batu!". Kami langsung melihat ke atas, ternyata di atas ada seorang laki-laki yang lagi ambil gambar, tapi karena tanahnya rapuh, ada batunya yang jatuh ke bawah. Ya Allah...untungnya kok nggak menimpa di antara kami yang lagi ada di bawahnya, langsung deh dia kena amuk massa tapi dengan omelan.

Setelah puas menikmati pemandangan disana, kami berniat untuk turun. Sebelum turun ini, ada beberapa orang yang menawari souvenir belerang dengan bentuk-bentuk lucu kepada kami. Waaah ada yang bentuk kura-kura, mauuu! Saya kaget sekaget-kagetnya waktu dengar harga souvenir itu, cuman Rp 5000 dapet 3 buah. Daripada cuman beli 3, saya beli 6 sekalian dengan harga Rp 10.000. Murah banget untuk ukuran mereka harus berjuang naik turun gunung dengan taruhan nyawa begini. Tapi kok ya masih ada yang tega buat menawar harganya... haduh...

Kami pun turun ke bawah, sepanjang perjalanan kami banyak menjumpai para penambang yang mulai naik. Kami sempat bertemu dengan sepasang cowo-cewe yang lagi bercandaan, dan karena saking asiknya mereka nggak tahu kalau di depannya ada penambang mau lewat dan nggak ngasih jalan buat penambang tersebut. Padahal jalan sebelahnya udah jurang, langsung deh mereka kena semprot. Ya iya lah....salah sendiri nggak peka, sebel banget lihatnya, kan kasihan penambang itu. 
Kira-kira gini yang penambang itu katakan, "Mas, didelok lek mlaku. Sampean arep nggenteni ngeke'i mangan anak bojoku lek aku mati nang kene?"
Jleb...jleb...

Pak Mat langsung bilang ke kami, "Hati-hati ya mbak...utamakan penambang."
Saya ikut kagum, prihatin dengan kondisi para penambang. Tulang punggung mereka rata-rata sudah berubah bentuk menjadi cekung karena setiap hari membawa beban berat, beneran beban berat nih. Berat belerang itu antara 50-70 kg, masih dipotong keranjangnya yang seberat 3 kg. Setiap kilogramnya dihargai Rp 925 untuk pendakian pertama. Jika sanggup, mereka melanjutkan untuk pendakian kedua dan hasilnya dihargai dengan Rp 1025. Lebih mahal hanya Rp 100. Tinggal dikali aja 50 x 925 = 46.290 rupiah. Pengorbanannya yang membutuhkan taruhan nyawa, kekuatan fisik yang luar biasa serta keberanian rasanya tidak setimpal dengan pundi rupiah segitu. Disesuaikan dengan kondisi fisik, kalau masih muda bisa sampai balik mendaki 2 kali, tapi kalau di atas 50 tahun rata-rata hanya sekali aja naik turun udah capek banget. Anehnya, mereka ini malah lebih senang jika hujan karena jalan untuk turun lebih mudah, padahal menurut saya justru itu licin banget. Nggak tau deh, nggak bisa ngebayangin gimana jadi mereka. Pak Mat bilang, kalau ada pilihan pekerjaan lain ya saya nggak milih ini mbak... Aaak rasanya mencelos. Apa yang bisa saya lakukaaan....

Hasil dari belerang tersebut akan disetorkan ke sebuah pengepul dari Surabaya yang nantinya untuk dijadikan obat dan hasil lainnya. Kalau nggak salah, masa kontraknya mereka akan habis pada tahun ini. Untuk tahun depan, harapannya mereka ingin agar para penambang ini dapat dijamin secara kesehatan dan jiwanya oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan asuransi. Semoga aja bisa segera terwujud ya. 


video alay di tengah angin Ijen 

Komentar